Kamis, 30 Oktober 2014

PRESTASI ANAK CERMIN KEPERDULIAN ORANG TUA

 “ Bu, mohon dibantu anak-anak mengerjakan tugas. Ini sudah beberapa kali Romi tidak menyelesaikan tugas dengan baik”, kata seorang guru.

“ Waduh, bu, saya sibuk, bu. Lagipula saya dulu nggak pernah belajar ini. Dan nggak berbakat ngajar. Entar deh, saya carikan guru private”, jawab seorang Ibu yang tangannya memegang BB dan sebelumnya aktif menebar status di FB nya.

Kebanyakan kasus prestasi rendah pada anak seringkali berawal ketidakperdulian orang tua. Banyak orang tua yang sepenuhnya menyerahkan persoalan pendidikan pada sekolah.

Mereka kemudian tidak menyadari jika anak mereka membutuhkan bimbingan dari orang tuanya dalam banyak hal. Mulai dari pendidikan soal kedisplinan hingga keterampilan-keterampilan sosial. Serta, ketika belajar bersama, terjadi komunikasi yang intens antara anak dengan orang tuanya yang memperkuat ikatan emosional antara anak dengan orang tuanya.

Alasan orang tua untuk tidak mau larut dengan perkembangan anaknya antara lain kesibukan pekerjaan, atau  tidak sanggup mengatasi tingkah laku anak. Cilakanya banyak orang tua yang pada dasarnya tidak mau direpotkan dengan urusan perkembangan anak-anaknya. Alhasil menyerahkan tanggung jawab untuk mendidik anaknya pada pihak lain. 

Padahal anak sangat membutuhkan perhatian orang tua, khususnya, selama  mengalami perkembangan motorik, verbal, numeric terutama hingga anak berumur 4 tahun.

Anak membutuhkan bimbingan orang tua dalam mengekplorasi dunianya, menjawab rasa ingin tahu si anak. Dan banyak lagi kebutuhan anak yang dipastikan bisa mengurangi ketenangan orang tua.  

Oleh sebab itu, jika anak prestasi anak rendah, bisa jadi itu bukan karena anak tidak cerdas. Namun karena orang tua yang  menyebabnya anaknya demikian. Semoga teman-teman pembaca bukan salah satu diantaranya.

Rabu, 29 Oktober 2014

JANGAN MENAKUT-NAKUTI ANAK




“ Awas, ya , nanti bunda kasih tahu Pak Guru kalau nggak mau bobok !”

“Nanti  mama bilangin  sama bu guru di sekolah kalau sayurnya nggak dimakan”

“Ayo cepetan nanti ada hantu!”

“Nanti ditangkap  Pak  polisi lho kalau nggak mau minum susu !”

DuhaiPak guru, Bu guru, Hantu, Pak Polisi jangan menakut-nakuti  anak anakdonk!

“Lho, lho, lhoBukan kami yamg menakuti anak-anak. Tapi orang tua anak anak yang membuat kami menjadi menakutkan dimata anak-anak!”  kata Pak Guru, Bu Guru, Hantu dan juga Pak Polisi berbarengan.

Bila kita mampu memahami jenjang pertumbuhan akal anak, akan mudah bagi kita mengetahui kapan  kita harus bicara secara langsung kepadanya dan mengetahui memilih kata yang tepat ketika bicara dengan anak, sesuai pola pikirnya.

Anak juga memiliki batasan tertentu.  Akal dan pikiran masih dalam tahap perkembangannya.  Orang tua hendaknya mampu menyusun kalimat yang mudah dan kata-kata yang sederhana ketika berbicara. Kita juga harus mampu berinteraksi dengan anak yang selaras dengan kemampuan yang dimiliki anak.

Ayah dan bunda, sebaiknya jangan menakut-nakuti dengan tokoh yang ada disekitarnya untuk memerintah anak melakukan sesuatu.  Akan lebih baik jika ayah dan bunda menyampaikan sesuatu kepada Ananda dengan memberikan penjelasan dan alasan yang logis dan yang mudah dipahami otak anak-anaknya. Karena ini bisa mendorong pikiran anak berkembang dengan baik.

Sebaiknya gunakan bahasa-bahasa demikian:

“Yuk bobok sayang, biar nanti bangun tidur sudah segar. Jadi bisa belajar dan bermain bersama teman-teman”

“Ayo dunk sayurnya dimakan biar sehat dan jadi tambah pintar !”

“Yuk jangan terlalu lama biar setelah selesai bisa istirahat”.

“Susunya diminum, sayang…..”

Dengan cara berbicara demikian akan mampu melatih pikiran anak berkembang. Serta tokoh-tokoh seperti Pak Guru, Bu Guru, Hantu dan Pak Polisi tidak lagi menjadi kata pamungkas untuk menakut-nakuti anak. .

AGAR ANAK MEMILIKI KEMAMPUAN BERGAUL YANG BAIK

Diantara usia 5 sampai 12 tahun, berteman merupakan salah satu bagian terpenting di masa pertengahan kanak-kanak – sebuah ketrampilan sosial yang akan terus melekat di sepanjang hidupnya. Secara perkembangan, anak-anak usia sekolah sudah siap untuk membentuk hubungan yang lebih kompleks. Mereka mulai mampu mengkomunikasikan baik perasaan maupun pikirannya, dan mereka dapat mengerti konsep waktu dengan lebih baik – lampau, saat ini dan masa datang.

Di usia ini mereka tidak lagi harus terus bersama keluarga atau mementingkan diri sendiri. Tetapi mulai mengandalkan teman sebaya untuk bersahabat. Menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman dibandingkan ketika mereka masih berada di usia pra sekolah. Hari demi hari mereka lewati dengan saling berbagi kesenangan dan kesusahan .

Memilih Teman
Beberapa faktor dapat mempengarui cara anak Anda memilih teman. Jika ia dihargai dan dicintai oleh keluarganya, maka kemungkinan besar ia berhasil memilih teman yang benar

Jika hubungan Anda dan pasangan baik, dan jika anak Anda memiliki hubungan yang saling mendukung dan saling memperhatikan dengan saudara-saudaranya, ia telah melihat dan mengalami contoh positif tentang bagaimana orang dapat berhubungan baik.

Kesan ini akan dibawa ke dalam hubungan persahabatan, termasuk terhadap teman-teman yang dipilihnya. Sebaliknya, jika hubungan keluarganya tidak mendukung, maka kemungkinan ia akan mencari teman yang mempunyai masalah yang serupa.

Oleh sebab itu, luangkanlah waktu Anda untuk membantu anak dengan memahami mengapa ia memilih teman-teman seperti yang telah ia lakukan. Hal ini bisa menjadi peluang untuk mendiskusikan nilai-nilai yang ia terapkan, perasaan maupun perilakunya.

Persahabatan yang Sehat
Persahabatan yang sehat adalah persahabatan dimana anak-anak memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada anak yang mendominasi yang lain untuk membuat semua keputusan aktivitas-aktivitas yang akan mereka jalankan. Mereka perlu berbagi dan berusaha untuk menyenangkan satu sama lain.

Mereka juga perlu untuk mampu memecahkan masalah mereka sendiri. Misalnya: jika seorang anak ingin bermain dengan mainan milik temannya, mereka mungkin akan membuat suatu jadwal sehingga semua anak bisa mendapat giliran. Atau mereka mungkin akan merencanakan aktifitas lain yang dapat mereka lakukan bersama. Hal ini dimungkinkan melalui adanya kemampuan anak berkomunikasi dengan baik.

Kemampuan berbahasa penting untuk membangun dan menguatkan hubungan persahabatan yang baik. Selama masa pertengahan kanak-kanak, teman-teman belajar untuk berkomunikasi dengan jelas dengan yang lain, berbagi rahasia, cerita, perasaan bahkan lelucon.

Anak-anak yang memiliki masalah dengan berbahasa atau berbicara sering kali mengalami kesulitan untuk berteman, sering menggunakan kata-kata yang tidak tepat dan tidak menangkap pesan dan kata-kata implisit dari teman sebayanya – verbal maupun non-verbal.

MEMBERI SPIRIT YANG POSITIF PADA ANAK

“Dasar bodoh… mosok begini saja tidak bisa!!!! “ 

“Ya, ampun….. jorok amat sih ?”

“ Bandel banget sih ! Nggak pernah nurut…. Mau jadi apa kamu !!!”

Duh…duh….   ( “episode ibunya Sinchan murka *mode.on”)  … ayah, bunda…… stop-stop-stop !!

Jika kita mengatakan kalimat seperti di atas pada anak kita, sesungguhnya anak akan menerima pendapat-pendapat ini seakan-akan gambaran tentang dirinya.  Maka anak kita akan bertindak pada koridor sifat negatif yang kita sering kita sebutkan kepadanya.

Tetapi sebaliknya jika kita berkata kepada anak kita ..

“Alhamdulillah Dina, pasti bisa mengerjakannya dengan baik!”

“Sayang, kalau kamu anak baik, pasti akan selalu membersihkan tempat ini kan?…”

“Wah, ayo coba ikuti kata Ayah dan Bunda, pasti nanti besar kamu akan jadi orang yang hebat!”

Dengan mendengar ucapan-ucapan sejenis  tersebut diatas insyaalloh akan memberikan spirit positif bagi anak.

Ayah dan bunda, mari kita membiasakan untuk mengucapkanlah hal-hal yang positif pada anak,  senegatif apapun yang mereka perbuat. Karena spirit positif dapat memberikan dan mendorong  pengaruh yang positif bagi anak kita.

MEMOTIVASI BELAJAR ANAK (KELAS 1 – 3 SD)


“Duuuuh tobat…. Gimana caranya ya agar Al-Zhaera

mau belajar tanpa disuruh?” seperti kakaknya dulu.....?????

“Grrrrrrrr…..!” (lho kok menggeram….. kayak…..xixixixi)

“Ya ampyuuuun…. Masih nonton TV juga…. Kapan belajarnya? Besok ulangan…..!” (*murka.com)
Mungkin kita sering sekali mengucapkan kalimat-kalimat yang bunyinya berbeda tapi intinya sama= anak kita susaaaaaaaah sekali disuruh belajar!
Mmmmmh… kenapa ya?
“Anak saya ini nggak punya motivasi belajar!”
“Motivasi belajarnya kurang!”
“Belum mempunyai motivasi untuk maju!”
Motivasi, motivasi, motivasi. Apa sih sebenarnya motivasi itu?

Dalam kamus praktis ilmiah populer dijelaskan bahwa motivasi adalah dorongan (dengan sokongan moril), alasan, tujuan tindakan. Motivasi merupakan perilaku yang ditujukan kepada sasaran. Motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan yang berkaitan erat dengan kepuasan pekerja.

Sedangkan pengertian motivasi menurut Sumadi Suryabrata adalah suatu keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna suatu pencapaian tujuan.

Jadi? Ya sesungguhnya semua manusia mempunyai motivasi untuk mendapatkan hasil tertentu. Hanya saja untuk anak-anak kadang kadang motivasi harus dibangkitkan terlebih dahulu.... terutama untukmotivasi belajar.

Mengapa? Karena pada hakekatnya pada usia tertentu anak masih mempunyai kecenderungan bermain lebih banyak dari pada belajar. Sudah menjadi kodrat.

Tapi, tentu saja dengan tuntutan jaman yang membuat orang harus mempertinggi daya  juang untuk mencapai prestasi. Kita sebagai orang tua juga tidak boleh berleha-leha dan akhirnya menjadi lengah dalam memotivasi anak.

Memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di tingkat SD,   ada pengelompokkan dalam dua kategori, yaitu:

1.    Kelas rendah (kelas 1-3 SD)
2.    Kelas atas (kelas 4-6 SD), masing masing kelompok memiliki karakter dan cirri-ciri yang berbeda.

Klas 1-3 SD
Anak-anak di kelas bawah masih memasuki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang lebih formal. Kondisi ini ,menuntut mereka  untuk banyak berada dalam dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.

“Bisa ngga sih ?? “ tanya seorang Ibu
“ Bisa saja sih”, jawab saya

Tapi tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayang seribu sayang dengan alasan tuntutan masa sekarang dalam meraih prestai,  banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini.

“Anak kelas 1-3   belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15-25 menit sajauntuk kemudian beralih ke lain topik. Jadi sebetulnya bila dikelas ada anak yang kerjanya “bersilaturahmi” mengunjungi bangku kawannya “arisan dikelompok lain”  sebetulnya mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas itu sudah menjadi kecenderungan mereka.

“Lha terus gimana dunk? Khan ngga bisa kita terpaku pada kodrat saja. Gimana cara memotivasi anak tanpa melupakan kodrat dan juga hak mereka sebagai anak-anak?”tanya seorang orang tua murid.

Yah kita sebagai orang tua, guru, musti bisa memotivasi anak kita agar mau belajar

Caranya?

Berkaitan dengan masa transisi ini pula, seperti  orang tua mesti peka. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah “ketakutan”.
agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:

Belajar sambil bermain 
Pada prinsipnya hampir sama dengan  cara belajar anak TK. Namun untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih membangun. “Tolong ambilkan Ayah 5 kue, dong. Nah, di tangan adek sudah ada 1 kue. Jadi,ayah sekarang punya berapa kue??

Suasana belajar pun tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar di  meja belajar, bisa juga sambil duduk di karpet.

Manfaatkan PR
 Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Namun selama tidak berlebihan, sebenarnya PR sangat banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah juga membuat Ayah dan Bunda tahu sampai dimana Ananda menerima pelajaran (sssst…… ini mah hanya berlaku bagi ayah dan bunda yang selalu menyempatkan diri sesibuk apapun untuk senantiasa mengikuti apa saja yang dilakukan ananda  J).  

Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang sering menjadi beban bagi anak. Kalau pun kejadiannya seperti ini, libatkan diri Ayah dan Bunda saat ananda belajar dan mengerjakan PR . Tapi bukan ayah dan bunda yang memberi  jawaban.

SUPPORT lah selalu malaikat kecil kita 
Support/ dukungan  sangat  diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, tapi harus manis. Misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita tidak marah yang berkepanjangan dan memvonis anak kita sebagai anak bodoh.  tolol dan lainnya

Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak. “Sebagai awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 50. Apakah ia kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 50 itu berarti kurang.” Lalu tetaplah beri dukungan. “Untuk hari ini enggak apa-apa dapat 50. Kamu bisa dapat nilai yang lebih baik di ulangan berikutnya, tapi kamu harus belajar.”

Jadilah model 
Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. “Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. ‘Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?" Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak “belajar”, seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.

Tetapkan jam belajar
Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk berisitirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain playstation