Kamis, 30 Juli 2026

Tiga Topi Istimewa dari Guru Biasa: Guru Kelas sebagai Orang Tua Kedua, GPK, dan BK untuk Anak Aneh yang Tersisihkan

Tiga Topi Istimewa dari Guru Biasa: Guru Kelas sebagai Orang Tua Kedua, GPK, dan BK untuk Anak Aneh yang Tersisihkan Penulis: Nia Yusnita Natalia Unit Kerja: SD Negeri 3 Balong Kedatangan Anak “Aneh” di antara Anak Biasa Apa yang terbayang di benak anda ketika mendengar kata anak "aneh"? Seorang anak yang berbeda? Sulit iatur? Tidak bisa mengikuti aturan? Atau, mungkinkah kata "aneh" hanyalah topeng untuk menyembunyikan rasa takut yang luar biasa? Di salah satu ruang kelas SD Negeri 3 Balong, seorang anak perempuan yang sering dipanggil "aneh" oleh teman sekolahnya, sedang duduk di kursi paling belakang, memunggungi papan tulis, dan ddiam. Ia tidak bertanya, tidak menjawab, tidak mengeluh. Setiap pagi ia datang, setiap siang ia pulang, dan di antara keduanya, ia seperti tidak pernah benar-benar ada. Ia hadir di data sekolah, tetapi tidak pernah hadir dalam proses belajarnya sendiri. Ia tidak pernah mau menatap mata guru saat iajak bicara. Ia sering menggambar lingkaran di pinggir buku tulisnya ketika guru menjelaskan pelajaran. Ia tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Ia tidak suka disentuh, dan lebih suka menyendiri di pojok perpustakaan saat istirahat. Teman-temannya menjauh. Beberapa guru menggelengkan kepala. Nama anak itu adalah Alfina, bukan nama sebenarnya. Namun, ada seseorang yang tidak pernah percaya bahwa Alfina "aneh". Setiap pagi, seorang guru berdiri di depan cermin dan mengenakan tiga topi istimewa. Topi pertama adalah topi guru kelas, yang menjadikannya orang tua kedua bagi anak-anak didiknya. Topi kedua adalah topi Guru Pendamping Khusus (GPK), yang memberinya kerangka untuk mengadaptasi pembelajaran. Topi ketiga adalah topi Guru Bimbingan dan Konseling (BK), yang melengkapinya dengan pendekatan sosial-emosional. Tiga topi dari seorang guru biasa, yang kelak menjadi senjata paling ampuh melawan rasa takut yang selama ini membungkam seorang anak. Tulisan ini adalah kisah tentang Alfina (bukan nama sebenarnya), dan tentang seorang guru yang memilih melihat lebih dalam dari sekadar keanehan. Di balik setiap anak yang ddiam, ada suara yang menunggu untuk didengar. Di balik setiap guru biasa, ada potensi untuk menjadi luar biasa. Mengapa Seorang Guru Biasa Harus Memakai Tiga Topi? Perjalanan seorang guru biasa menjadi pemakai tiga topi tidak terjadi dalam semalam. Ia bukan lulusan pendidikan luar biasa, dan tidak pernah bercita-cita menjadi konselor sekolah. Ia hanyalah guru kelas yang suatu hari menyadari bahwa banyak anak di kelasnya tidak bisa dijangkau dengan cara mengajar biasa. Mereka ddiam, menarik diri, dan tampak "aneh" di mata teman-temannya, dia hadir secara fisik, tetapi hilang secara substansi. Sejak tahun 2019, sekolah tempatnya mengajar, seperti banyak sekolah dasar lain di Indonesia, tidak memiliki Guru Pendidikan Khusus tersendiri, sementara jumlah anak berkebutuhan khusus terus bertambah setiap tahun. Tidak ada pilihan yang lain, selain guru kelas itulah yang harus menjadi garda terdepan. "Awalnya saya sangat bingung," kenangnya. "Saya hanya tahu bahwa anak-anak itu tidak bisa saya biarkan begitu saja. Mereka datang setiap hari, tetapi tidak pernah benar-benar belajar. Saya merasa gagal sebagai guru." Dari kebingungan itulah ia mulai mencari ilmu dan informasi untuk mengikuti pelatihan singkat tentang pendidikan inklusif, membaca buku psikologi perkembangan anak, bergabung dengan forum diskusi guru, dan mencoba berbagai strategi di kelasnya namun sering gagal, tetapi ia terus mencoba. "Setiap kali gagal, saya belajar sesuatu yang baru," katanya. "Saya belajar bahwa anak dengan autisme tidak bisa dipaksa menatap mata. Anak dengan gangguan kecemasan tidak bisa dimarahi. Setiap anak punya cerita. Saya hanya perlu mendengarkannya." Perlahan ia menjadi rujukan bagi rekan-rekan guru lain di sekolahnya. Namun ia merasa ilmunya masih kurang, ia ingin bekal yang lebih ilmiah dan terstruktur. Ketika ada kesempatan mengikuti pelatihan Pendidikan Guru Pendamping Khusus (GPK), dilanjut Bimbingan Teknis Guru Bimbingan dan Konseling (BK) bagi Guru SD, ia mengikuti dengan sukarela karena menyadari bahwa anak berkebutuhan khusus tidak hanya membutuhkan adaptasi akademik, tetapi juga dukungan sosial-emosional yang kuat. Dua sertifikat itu bukan tujuan akhir, melainkan sebuah alat untuk memahami anak-anak yang selama ini tersisihkan, dan memastikan tidak ada lagi anak yang hanya datang, diam, dan pulang. Arah Kebijakan Pendidikan Inklusif Indonesia Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi pendidikan inklusif di Indonesia. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menegaskan komitmen pemerintah melalui instrumen akreditasi yang menekankan penilaian karakter, iklim keamanan, inklusivitas, dan kebinekaan di sekolah. Salah satu terobosannya adalah Rapor Pendidikan Indonesia 2025, yang kini dapat diakses khalayak lebih luas, termasuk orang tua, sehingga mendorong kolaborasi dalam peningkatan mutu pendidikan. Kebijakan SPMB 2025 jalur afirmasi juga memberi kesempatan bagi murid disabilitas mengenyam pendidikan di sekolah reguler. Pada tataran kurikulum, terjadi transisi menuju 8 Dimensi Profil Lulusan melalui Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), dengan prinsip Mindful, Meaningful, dan Joyful yang bergantung pada kesejahteraan mental siswa yang dikelola profesional oleh konselor sekolah. Di sisi lain, ketidakpastian sistem data sekolah dan siswa masih menjadi kendala bagi implementasi kurikulum yang inklusif. Namun, di tengah gemuruh kebijakan besar itu, di sebuah ruang kelas sederhana di SD Negeri 3 Balong, pergulatan yang sesungguhnya sedang terjadi bukan tentang kurikulum atau data, tetapi tentang seorang anak bernama Alfina dan seorang guru yang tidak rela membiarkannya terus tersisihkan. Tiga Topi Istimewa untuk Anak “Aneh” Topi pertama, topi guru kelas, menjadikannya orang tua kedua yang pertama melihat wajah cemas di pagi hari, dan yang terakhir melihat senyum lega saat bel pulang. Topi kedua, topi GPK, mengajarkannya bahwa setiap anak punya cara belajar yang berbeda, ada yang belajar dengan mendengar, melihat, atau bergerak. Alfina tidak bisa duduk diam mendengarkan penjelasan; ia perlu bergerak, menyentuh, dan waktu untuk memproses informasi. Topi ketiga, topi BK, mengajarkannya bahwa di balik setiap perilaku anak selalu ada cerita. Alfina tidak "aneh", ia sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri, menarik diri karena tidak tahu cara lain melindungi diri dari rasa takut dan cemas yang luar biasa. Kata "aneh" itu pertama dilontarkan seorang anak di kantin, lalu menyebar seperti api di padang rumput kering. Guru-guru lain menggelengkan kepala: "Anak itu sulit diatur," "Ia tidak mau mendengarkan," "Mungkin ia hanya malas." Namun sang guru kelas tidak percaya. Ia mengamati Alfina dengan saksama: gelisah saat kelas ramai, tenang saat mendengar musik lembut, bisa fokus menggambar berjam-jam tetapi tak sanggup diam mendengarkan ceramah lebih dari lima menit. Dari pengamatan itu, ia menyusun kerangka sederhana bernama Program SIGAP yang merupakan akronim dari Simak (mengamati pola perilaku anak), Identifikasi (memetakan kebutuhan spesifik), Gali (menggali gaya belajar anak), Adaptasi (menyesuaikan metode dan materi), dan Pendampingan (mendampingi secara konsisten). Melalui langkah simak, ia menyadari bahwa Alfina bukan "aneh", melainkan anak dengan kebutuhan khusus yang belum pernah teridentifikasi, mungkin dalam spektrum autisme, mungkin gangguan kecemasan, atau keduanya. Suatu hari, saat membersihkan meja Alfina, sang guru menemukan selembar kertas usang terselip di balik buku penuh gambar lingkaran. Di atasnya tertulis dengan huruf anak-anak yang bergetar: "Saya ingin bisa membaca seperti teman-teman, tetapi saya takut dimarahi jika bertanya." Guru itu tertegun, air matanya mengalir tanpa terasa. Alfina tidak "aneh" karena bodoh atau malas, ia "aneh" karena takut. Cara teraman yang ia temukan adalah menjadi "aneh", sehingga orang-orang menjauh. Sudut TENANG bersama Sahabat Kelas Sang guru tahu ia harus bertindak, memakai tiga topinya secara maksimal. Ia menciptakan Sudut TENANG, sebuah area kecil di pojok kelas tempat anak boleh menepi sejenak saat cemas atau butuh jeda, cukup dengan karpet kecil, bantal, dan mainan sensorik sederhana merupakan implementasi nyata prinsip kesejahteraan mental dalam Deep Learning. Bagi Alfina, sudut itu menjadi tempat perlindungan pertama, tempat ia belajar bahwa rasa takut dan cemas adalah hal wajar, dan bahwa ia tidak akan dimarahi jika butuh waktu lebih lama untuk memahami sesuatu. Ia juga mengembangkan Sahabat Kelas: sistem pendampingan teman sebaya yang dipasangkan bergilir untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus dalam kegiatan akademik maupun sosial. Teman pertama Alfina adalah Dani, anak yang periang dan sabar. Dani tidak pernah memanggil Alfina "aneh". Ia hanya tersenyum dan berkata, "kamu bisa kok, Lang. sini biar aku bantu, kamu kerjakan pelan-pelan saja, aku juga dulu begitu." Perlahan Alfina berubah. Dari anak yang hanya datang, diam, dan pulang, ia mulai berani mengangkat tangan, menjawab meski suaranya bergetar, dan tersenyum. Teman-temannya mulai melihat bahwa Alfina tidak "aneh”, ia hanya berbeda, dan perbedaan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami. Namun tantangan besar datng, orang tua Alfina akan pindah ke kota lain karena pekerjaan baru ayahnya. Dan Alfina harus mengikuti rangtuanya Membangun Jembatan dengan Orang Tua Orang tua Alfina pun awalnya tertutup. Ibunya, penjual kue keliling, datang ke sekolah dengan wajah cemas setiap kali dipanggil, bertanya dengan suara bergetar, "Anak saya bermasalah, Bu?" Sang guru belajar bahwa bahasa sangat menentukan. Alih-alih mengatakan "anak Ibu bermasalah", ia membingkainya sebagai "mari kita cari cara belajar yang paling cocok untuk Alfina". Pendekatan ini membuka kepercayaan jauh lebih besar. Ibu Alfina mulai bercerita: Alfina sering menangis di malam hari karena takut tidak bisa mengikuti pelajaran, pernah dimarahi guru di sekolah sebelumnya, dan tidak pernah punya teman sejak kecil. Kolaborasi ini membentuk ekosistem kecil di sekolah yang terdiri dari guru kelas yang sekaligus merangkap sebagai GPK dan guru BK, bersama orang tua bergerak searah demi memastikan anak benar-benar dilibatkan dalam proses belajar. Ketika kabar kepindahan tiba, ibu Alfina datang membawa sebungkus kue buatannya sendiri. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, "Bu, saya tidak pernah berpikir anak saya bisa berubah. Selama ini saya pikir ia memang 'aneh'. Tetapi Ibu mengajarkan saya bahwa ia hanya berbeda. Terima kasih telah menjadi ibu kedua bagi Alfina." Deteksi Dini dan KKG: Ketika Guru Tidak Lagi Sendirian Usia sekolah dasar adalah periode emas untuk mengenali kebutuhan belajar anak sedini mungkin. Semakin cepat hambatan belajar teridentifikasi, semakin besar peluang anak berkembang optimal. Di sinilah posisi guru kelas sangat strategis, karena gurulah yang paling sering dan paling dekat mengamati anak setiap hari. Semakin dalam sang guru mempelajari pendidikan inklusif dan bimbingan konseling, semakin ia sadar betapa sunyinya peran ini dijalani sendirian. Banyak guru kelas lain di Kecamatan Balong menghadapi situasi serupa tanpa tempat berbagi. Dari keresahan itu, ia menggagas Kelompok Kerja Guru (KKG) GPK dan KKG BK tingkat sekolah dasar adalah wadah bagi guru berperan serupa untuk saling bertukar pengalaman. Melalui KKG ini, ia membagikan Program SIGAP, Sudut TENANG, dan Sahabat Kelas kepada rekan sejawat. Tidak ada lagi guru yang merasa sendirian menghadapi anak-anak "aneh" di kelas mereka. Anak “Aneh” yang Kembali Tiga tahun berlalu sejak Alfina pindah. Sang guru terus mengenakan tiga topinya setiap hari, membantu puluhan anak berkebutuhan khusus, tetapi tidak pernah melupakan Alfina. Suatu hari, pada acara perpisahan kelas enam, seorang pemuda berseragam SMP datang ke ruang guru. "Bu, apa Ibu masih ingat saya?" Sang guru menatapnya, ada sesuatu yang familiar di matanya. "Alfina?" tanyanya dengan suara bergetar. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bu. Saya pulang ke Balong. Ayah saya pensiun, dan kami kembali ke rumah lama." Sang guru memeluknya erat. Alfina yang dulu "aneh", yang dulu hanya datang, diam, dan pulang, kini berdiri sebagai pemuda yang percaya diri, bisa diterima baik di sekolah barunya, mendapat guru yang memahami kebutuhannya, bahkan menjadi juara lomba menggambar tingkat kabupaten. "Bu," katanya mantap, "saya tidak akan pernah melupakan ibu. Ibu adalah orang pertama yang tidak memanggil saya 'aneh'. Ibu adalah orang pertama yang mengajarkan saya bahwa saya tidak perlu takut. Ibu adalah guru kelas, GPK, dan BK bagi saya. Ibu adalah ibu kedua saya. Terima kasih, Bu." Kemuian Alfina menatap mata sang guru, lurus, dalam, dan penuh keyakinan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menatap mata seseorang tanpa rasa takut. Seandainya saat itu sang guru memilih untuk tidak mencari tahu dan hanya membiarkan Alfina menjadi "aneh" di pojok kelas, mungkin ia akan tetap menjadi anak yang hanya datang, diam, dan pulang serta menjadi salah satu dari banyak anak yang "hadir" di data sekolah, tetapi tidak pernah benar-benar hadir dalam proses belajarnya sendiri. Perbedaan antara anak yang hanya datang, diam, dan pulang dengan anak yang benar-benar tumbuh dan belajar sering kali ditentukan oleh satu hal sederhana: apakah ada orang dewasa di sekitarnya yang mau mengambil satu langkah lebih jauh untuk memahaminya. Keadilan bagi anak berkebutuhan khusus tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi dari keseiaan kita semua untuk tidak berhenti belajar dan berani berbagi apa yang telah dipelajari kepada lebih banyak orang. Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur mulai dibangun hari ini, dari ruang-ruang kelas yang membuka pintu bagi setiap anak untuk belajar dan tumbuh bersama. Karena setiap anak, termasuk yang dijuluki "aneh", berhak menjadi pemenang. Dan setiap guru, termasuk rekan guru yang mungkin saat ini sedang membaca tulisan ini juga memiliki kuasa untuk menjadi alasan mengapa anak itu akhirnya berani bersuara dan tidak lagi tersisihkan. Penulis: Nia Yusnita Natalia Guru Kelas, Guru Pendamping Khusus, dan Guru BK SD Negeri 3 Balong   Daftar Pustaka Amalia, N., & Kurniawati, F. (2021). Studi Literatur: Peran Guru Pendidikan Khusus di Sekolah Inklusi. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, 7(2), 361–371. Anjani, O. R., Nuha, M. S., Paramita, N. D., & Jalil, M. K. (2026). Kerangka Konseptual Peran Guru Bimbingan dan Konseling sebagai Fasilitator: Dekonstruksi P5 menuju PL8D dalam Kurikulum Merdeka. Ilmu Pendidikan: Jurnal Kajian Teori Dan Praktik Kependidikan, 11(2), 93–102. Dewi, W. K. M., & Arnawa, I. P. G. B. (2023). Peranan Guru Kelas dalam Pembelajaran Inklusif pada Anak Berkebutuhan Khusus. Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin, 3(4), 581–594. Fuji Astuti, R., & Ani Putri, K. (2024). Peran Pendidikan Inklusif: Strategi dan Tantangan dalam Penghapusan Diskriminasi terhadap Anak-Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus, 8(2), 109–119. Hanifah, S. N., & Musyadad, F. (2024). Peran Guru Kelas dalam Pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar. DIKDASTIKA: Jurnal Ilmiah Pendidikan Ke-SD-an, 10(1). Indah Budyawati, L. (2020). Pengembangan Program Pembelajaran Individual (PPI) Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusif Jember. SELING: Jurnal Program Studi PGRA, 6(2). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2024). Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Satuan Pendidikan. Jakarta: Kemendikdasmen. Mustika, S. (2023). Peran Guru Kelas dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling dalam Pembentukan Karakter pada Anak Berkebutuhan Khusus. MODELING: Jurnal Program Studi PGMI, 10(3), 481–492. Prastiwi, Z., & Abduh, M. (2023). Implementasi Pembelajaran Inklusi di Sekolah Dasar. Jurnal Elementaria Edukasia, 6(2), 668–682. Sukirman, S. (2020). Efektivitas Kelompok Kerja Guru (KKG) dalam Peningkatan Kompetensi Guru. Indonesian Journal of Education Management & Administration Review, 4(1), 205–212.   Lampiran 1 1. TUTR TEMAN SEBAYA
2. SUDUT TENANG

Sabtu, 12 Desember 2020

Sebuah Pendekatan Pembelajaran Berbasis Seni STEAM

STEAM adalah sebuah singkatan untuk Sains (science), Teknologi (technology), Teknik (engineering), Seni (art) dan Matematika (mathematic). Istilah STEAM, berdasarkan yang dikutip di www.affordablecollegesonline.org, istilah ini diciptakan di Sekolah Desain Pulau Rhode (RIDS). STEAM sendiri menggambarkan peran seni dalam desain dan sains. Salah satu pendiri awal Georgette Yakman, yang dikutip dari www.affordablecollegesonline.org menyebut STEAM sebagai “Sains dan Teknologi, yang ditafsirkan melalui Teknik dan Seni, semua berdasarkan unsur-unsur matematika.” STEAM adalah sebuah pendekatan pembelajaran terpadu yang mendorong siswa untuk berpikir lebih luas tentang masalah di dunia nyata. STEAM juga mendukung pengalaman belajar yang berarti dan pemecahan masalah, dan berpendapat bahwa sains, teknologi, teknik, seni dan matematika saling terkait. Dalam STEAM, sains dan teknologi dapat diartikan melalui seni dan teknik, termasuk juga komponen matematika. STEAM vs STEM? STEM merupakan dasar dari STEAM, jadi STEAM merupakan pengembangan dari STEM dengan menambahkan art di dalamnya. Pendidikan STEAM memfokuskan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, teknik dan matematika melalui seni dan desain. STEAM membawa STEM ke tingkat berikutnya yakni memungkinkan pembelajar untuk menghubungkan pengetahuan mereka di bidang-bidang sains, teknologi, teknik dan matematika bersamaan dengan seni. Komponen dalam STEAM Pemecahan masalah melalui inovasi dan desain Keterkaitan antara asesmen, rencana belajar dan standar pembelajaran Kombinasi lebih dari satu subjek dalam STEAM dan kegunaannya dalam seni Lingkungan pembelajaran yang kolaboratif dan process based learning Fokus pada hal – hal yang terjadi di kehidupan Dalam model pendidikan STEAM, seni tidak hanya dianggap sebagai subjek tersendiri, tetapi sebagai titik akses ke semua mata pelajaran lainnya, dan juga sebagai inovasi. STEAM atau Tidak? Berikut ini beberapa keuntungan dari menggabungkan seni dalam sains dan teknik seperti dalam STEAM model. Membantu menghilangkan penghambat ide – ide (karena tidak ada kata salah dalam seni) Fokus pada proses yang membantu mengarah pada inovasi Mengajarkan kekuatan dari observasi, orang – orang dan lingkungan dalam pembelajaran Membantu mengasah kecerdasan visual – spasial dan konsep matematika seperti geometri. Fondasi STEAM sebenarnya terletak pada pembelajaran inkuiri, pemikiran kritis, dan berbasis proses. Berbasis proses di sini berarti proses saat mengajukan pertanyaan, menimbulkan rasa ingin tahu, dan mampu menemukan solusi dari suatu masalah. Inti dari pembelajaran STEAM adalah menjadikan pembelajar lebih kreatif dalam menemukan solusi masalah.

Minggu, 06 Desember 2020

Urusan hati itu Rumit

Urusan hati itu memang bukan perkara main-main. Daya positif hingga daya rusaknya kadang sangat luar biasa. Tidak terhitung berapa banyak orang-orang yang secara fisik kuat atau secara otak memang cerdas, namun saat dihadapkan pada persoalan hati dan semua yang berkaitan dengannya, mereka hancur lebur. Secara naluriah memang sangat sulit untuk tetap "baik-baik saja" bila berurusan dengan hati. Rasa sakit, sedih hingga tangis pilu sebenarnya wajar dilakukan bila hati kita sedang terluka. Itu pertanda bahwa mekanisme alamiah dari tubuh kita memang bekerja, Tak ada yang salah dari itu semua. Nanti semua itu bisa menjadi salah jikalau dilakukan berlarut-larut sampai mengacaukan sistem normal pada tubuh kita. Yang jadi pertanyaan saat ini adalah, apakah ada cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi atau bahkan mengendalikan hati kita dari sakit yang berlebih? jawabannya adalah ada. Namun ibaratnya obat, obat ini harus diminum awal, bukan di saat sakitnya sudah kambuh. Yah beda-beda tipis dengan obat maag. Resep pertama yang harus kita pahami adalah, perlu kita ketahui bahwa esensi dari kehidupan itu adalah perpisahan. Kita harus paham betul bahwa kebahagiaan itu tidak pernah datang sendiri, di baliknya selalu ada perpisahan yang menanti. Anda bertemu dengan orang yang anda cintai lalu pacaran, boleh jadi putus kan? Kalau pun langgeng dan menikah, boleh jadi cerai kan? Lantas kalau masih awet sampai kakek nenek, bukankah di depan ada kematian yang menunggu? Jadi esensinya adalah, kita selalu memburu kebahagiaan namun lupa mempersiapkan kehilangan. Mempersiapkan kehilangan bukanlah sebuah sikap pesimis, melainkan sebuah upaya kita untuk sadar betul bahwa semua kebahagiaan ini kelak akan berakhir. Saat kita mencintai seseorang, lakukan dengan penuh totalitas. Sayangi dan perlakukan dia dengan seistimewa mungkin. Namun cobalah dalam beberapa momen berhenti sejenak lalu berfikir, cepat atau lambat, kami akan berpisah, tapi tak masalah cepat atau lambatnya, yang jelas dalam setiap detik bersamanya, saya akan melakukan semua yang terbaik untuknya. Jadi kuncinya ada pada senantiasa mengingatkan diri bahwa bahagia itu memang tidak abadi. Kita bisa menganalogikannya seperti ini, apa sih bedanya antara orang yang sedang makan bakso lalu kemudian tiba-tiba dipukul dengan seorang petinju yang sedang berjalan memasuki ring tinju untuk saling pukul? Bedanya ada pada kesiapan. Orang yang sedang makan bakso boleh jadi juga akan melawan, tapi sesaat setelah dipukul, pikirannya akan berputar kemana-mana, dia akan shock bahkan kadang tak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dia lakukan. Tapi coba lihat si petinju. Saat berjalan menuju ring tinju dia sudah tahu bahwa dia akan dipukul. Dia pun sudah tahu apa yang harus dilakukan bila dipukul. Dia sudah menyiapkan berbagai strategi dan kesiapan mental untuk menghadapi pukulan-pukulan itu. Maka bersiaplah sejak saat ini. Karena bahagia tidak pernah abadi, kesedihanlah yang pasti.

Kabeh Ono Bageane

Kabeh Ono Takerane Simbok : "Piye nduk dodolanmu...?" Anak. : "Sepi mbok... ming payu limo." Simbok : "Anakmu sehat nduk...? Bojomu piye kabare...?" Anak : "Alhamdulillah mbok sehat kabeh, pangestune simbok sama pak'e... Tapi saiki lagi lesu mbok dino iki payon ming limo..." Simbok : "Sing akeh syukur lan memujimu nduk, rejeki bondho kui wes ono takerane..." Anak. : "Hallah... kae lho mbok, yu painem le dodolan larise nemen..." Simbok : "Utangmu piye nduk...?" Anak. : "Alhamdulillah sampun lunas mbok..." Simbok : "Anakmu gek sok sumeng pora nduk...?" Anak : "Pangestune mbok, hawane koyo kiye bocah sehat bergas waras..." Simbok : "Maem e enak...?" Anak : "Alhamdulillah mbok doyane pol le maem, mau njaluk ayam bakar... Bapakne yo bar tumbas martabak... Mreneo to mbok rame-rame..." Simbok : "Yo kui nduk jenenge rejeki, siro nyawang kiwo tengen kayane laris byak-byuk... Gusti Alloh wes naker rejekimu kabeh... Wingi kui anake Yu Painem loro nganti pirang-pirang dino, ra doyan mangan... mlebu RS... tagihane nganti adol motor ora cukup... Ndilalahe omahe yo bola-balik diparani deb kolektor... Rame ne dagangane yu painem kae ancen lagi diparingi dalan karo Gusti Alloh, diparingi jalan cukup... Awakmu tak sawang yo ra kekurangan, malah luih ayem seko Yu Painem... Mulane welinge simbok... Diakeh-akehi anggonmu bersyukur, adoh seko iri dengki..." Anak : "Astaghfirullah... Njih mbok.... Kulo klentu..." Simbok : "Mulakno angger e nyawang ojo karo merem, raketok padhang... Isine peteng nek merem..." Anak : "Nubruk-nubruk mbok nek karo merem..." Simbok : "Sesuk reneo nduk, simbok sesuk panen pelem karo arep nyembeleh dere. Siro nggowo awak wae... Pakmu bar mbedhul budin sawah lor kae...." Anak : "Ya Alloh ya Robb... pangandikane simbok ancen bener... Gusti Alloh paring rejeki wujud bondho donya ancen ono takerane..." Alhamdulillah diparingi simbok sing jembar pikire... Alhamdulillah alhamdulillah... Love u mamah...

Cinta Tanpa Syarat

"Hadiah terbesar yang dapat kamu berikan kepada orang lain, khususnya pada pasangan adalah karunia cinta tanpa syarat. Cinta yang penuh penerimaan. -Brian Tracy-" Cinta merupakan misteri. Ia bisa datang kapan pun, di manapun dan berlabuh kepada siapapun yang dikehendaki hati. Perkara cinta, apa yang paling membahagiakan darinya? Tentunya ketika cinta itu terbalas dengan indah dan tulus. Ketika seseorang yang namanya ada di hati kita juga menyimpan nama kita di hatinya. Banyak yang mengatakan jika sebenar-benarnya cinta adalah cinta yang penuh penerimaan. Mau memberi dan menerima cinta tanpa dipaksa, memaksa atau terpaksa. Tapi, bagaimana jika kamu menaruh cinta pada seseorang sementara dia tak ingin menerima cinta tersebut? Atau sebaliknya. Ada seseorang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, penuh penerimaan dan rela berkorban apapun untukmu sementara kamu tak pernah menaruh sedikit pun cinta untuknya? Kalau memang tak menemukan titik temu untuk perasaan cinta yang sedang kamu rasa, cobalah untuk lebih bisa menerima kenyataan tersebut. Mencintai & Dicintai Meski Pada Tempatnya Menyoal cinta, ini penting dilakukan pada tempatnya. Tentunya agar bertemu kata sepakat untuk kedua orang yang sedang menjalaninya. Tak apa kamu mencintai seseorang dengan begitu besar. Tak apa kamu mencintai seseorang dari hatimu yang paling dalam. Kamu tak salah. Cinta memang terbiasa datang secara tiba-tiba dan terkadang tidak tahu tempatnya. Hanya saja, kamu tetap harus selalu berpikir logis dan jangan terlalu menggunakan hati saat mencintai. Ketika seseorang yang sedang kamu cintai tak memiliki perasaan yang sama, dipastikan ini akan memercikkan luka di hati. Tak perlu menyalahkannya, bukankah kamu dulu yang mencintainya? Tak perlu pula menyalahkan dirimu sendiri, cukup jalani yang kamu rasa saat ini dan terus meminta tuntunan terbaik dari sang Maha Pemilik Cinta. Pasrahkan segalanya padaNya agar cintamu bisa berlabuh pada tempatnya. Tempat di mana cintamu bisa menemukan kata sepakat serta bahagia. Karena cinta, kita bisa sangat bahagia. Kita juga bisa sangat terluka dan kecewa Cinta Hadir Bukan Karena Terpaksa Hadirnya cinta yang sesungguhnya adalah tanpa paksaan di dalamnya. Cinta yang tulus tak akan hadir karena ia dipaksa atau memaksa. Tidak ada alasan untuk mencintai. Ketika kamu memberi cintamu untuk seseorang, kamu tak akan punya alasan kenapa kamu bisa memberikan cinta tersebut. Begitu pun saat kamu mau menerima cinta seseorang, kamu tak pernah punya alasan kenapa kamu mau menerimanya. Kalau memang seseorang yang sedang kamu cintai tak membalas cintamu, cobalah untuk menerimanya dengan tenang dan berserah. Memaksa seseorang yang kamu cintai untuk memberikan cintanya untukmu sementara ia sama sekali tak memilikinya, ini justru akan membuatmu sakit hati. Juga, ketika kamu memaksa dirimu sendiri untuk mencintai seseorang yang sama sekali tak kamu cintai, tak hanya membuatmu sakit hati, ini juga sama saja dengan menyiksa dan melukai dirimu sendiri. Nikmati Rasa yang Ada, Bahagia & Sedih Sewajarnya Nikmati saja rasa yang ada di hatimu. Bahagia karena cinta boleh-boleh saja. Tapi ingat, berbahagialah sewajarnya saja. Begitu pun dengan perasaan sedih karena cinta, sedihlah sewajarnya saja. Pada dasarnya, segala yang berlebihan tidak akan menuai kebaikan. Segala yang berlebihan tak jarang justru akan membuatmu merasa tertekan dan berantakan. Saat kamu mencintai seseorang dan terlena dengan cinta tersebut, usahakan untuk tetap mengontrol diri dan memasrahkan cinta tersebut kepada sang Maha Pemilik Cinta. Biarkan Dia yang menuntunmu menemukan cinta terbaik, terindah dan paling tepat untukmu. Jangan sampai, kamu menjadi seseorang yang terlalu memaksa dan mendahului segala ketetapanNya. Menyoal cinta, kamu tak perlu khawatir. Waktu dan rencana dariNya yang akan menjawab semuanya. Cinta yang indah dan benar-benar mengena di hati adalah cinta yang penuh penerimaan. Cinta yang murni memberi dan meminta tanpa alasan. Cinta yang murni hadir tanpa dipaksa ataupun memaksa.

Selasa, 01 Desember 2020

Cincin

Dalam tulisan hieroglif, lingkaran berarti keabadian. Dalam kehidupan sekarang. Cincin dianggap sebagai lambang pernikahan. Selanjutnya, cincin juga dianggap akan mengabadikan hubungan dua orang yang saling mencintai. Secara filosofis, lingkaran yang membentuk cincin merupakan lambang kelengkapan yang tiada berujung dan tak pernah putus. Allah SWT menciptakan bumi ini seperti lingkaran, bulat dan berputar. Semua telah Dia sketsa dengan sempurna agar hamba-Nya mau memutar pikirannya untuk membaca, menggerakkan lidahnya untuk berbicara, melangkahkan kakinya untuk mencari, mengayunkan tangannya untuk mencoba, berusaha dan menyandarkan hatinya pada do’a yang tiada henti. Telah dicipta sebuah wacana Yang Maha Sempurna bahwa hidup tak selalu sama. Hubungan antarmanusia tak pernah berdiam di satu titik yang pasti. Kebahagiaan, kedukaan dan kematian, selalu berputar mengitari lingkaran hidup. Manusia hanya bisa memprediksi, menjalani dan berharap keabadian pertalian itu, tanpa bisa menentukan akhir cerita yang diperankannya. Lingkaran itu tak pernah berujung, dan sebuah cincin adalah harapan untuk selalu melingkari hati yang dikasihi. Cincin juga identik dengan keindahan, terutama bagi jari pemakainya. Jari manis seorang perempuan merupakan pasangan serasi sebuah cincin untuk mengikatkan ketulusan. Bagi orang Yunani Kuno, mengenakan cincin di jari manis dipercaya akan mengalirkan energi positif pada vena yang melewati jari tersebut ke jantung. Pantesan, banyak perempuan yang berdebar-debar jantungnya dan akhirnya luluh perasaannya ketika dipasangkan cincin di jari manisnya. Mitos apa fakta ya? Yang realistis sih gini. Jari manis lebih sedikit digunakan daripada jari-jari yang lain, sehingga lebih nyaman mengenakan cincin atau hiasan lain di jari manis itu. Ya, langgeng tidaknya sebuah hubungan tidak bergantung kepada sebuah cincin. Sebuah benda mati tidak akan mengalahkan kekuatan hati, hanya ketulusan dan pengertian yang bisa menjaga keutuhan dua hati. Keabadian sejati hanya milik Yang Maha Abadi.

Selasa, 09 Desember 2014

Aseli... MIRIS... banget kalo dengar YANG INI...

Duhhhhh sedihnya kalo dengar lagu ini...

Kerasa banget efeknya... anak-anak jadi mudah marah ke teman-temannya... Anak-anak jadi suka membantah perintah orangtua.., Anak-anak jadi sering berperilaku tak baik terhadap orang-orang di sekitarnya.., Kepeduliaan sosial mereka terhadap lingkungan sekitar mereka juga menghilang entah kemana... Tak hanya itu.., sopan santun.., etika.., rasa kasih sayang.., hormat menghormati dan gotong royong mereka pun kini tak lagi peka..,

Bukan karena siapa... Bukan karena anak-anak kita... Bukan juga karena media elektroniknya... Tapi semua ini murni dari kita sebagai orangtua.., guru.., sekaligus teman kala anak-anak kita ada dirumah... 

Teringat cerita teman waktu sharing di Acara Mom and Kid's sebulan yang lalu di Surabaya.., dia bercerita tentang kebiasaan sekolah anaknya yang mewajibkan ortu untuk mematikan televisi dan menyita hape disaat jam-jam belajar dirumah.., gak hanya untuk anak2nya tapi untuk seluruh keluarganya.., termasuk ayah juga bundanya. Aturan ini juga berlaku untuk seluruh warga sekolah termasuk guru dan KSnya.., Dan yang lebih luar biasa lagi seluruh warga sekolah boleh memberi laporan atas berlakunya aturan ini di rumah masing-masing kepada siapapun..,

Yahhh.., Di awal aturan ini berlaku mungkin sangat sulit melakukannya.., banyak sekali kebohogan- kebohongan didalamnya.., entah si anak.., entah si ortu.., entah si guru atopun KSnya.., cerita temanku.., gak hanya yang melakukannya aku dan siapapun yang mendengar cerita ini.., mungkin juga akan merasa sangat aneh.., dan tidak biasa tapi ternyata hal-hal yang tak biasa itu jika kita lakukan secara terus menerus baik secara sadar atopun terpaksa.., lama kelamaan rutinitas tradisi yang gak biasa ini bisa berjalan dengan sendirinya tanpa diperintah oleh kepala sekolahnya..,

Dan hasilnya luar biasa dalam 3 tahun terakhir banyak banget perubahan perubahan positif di lingkungan sekolah tempat anak anaknya bersekolah.., dampak positif itu tak hanya muncul pada anak-anak tapi pada guru juga orang tua pun mulai ada perubahan yang bagus..,

Ada gak diantara kita yang berani memberlakukan ini di lingkungan sekolah anak anak kita ya.., Seandainya pimpinan kita dilembaga sekolah tempat kita mengajar juga berani mengambil kebijaksanaan ini.........